Minggu, 09 Maret 2008

WAHABI

Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi
Dipublikasi pada Thursday, 21 February 2008 oleh admin
Oleh: Idrus Ramli*
Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid’ah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.
Tapi jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”
Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.

A. Sejarah Hitam
Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat t menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.
Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.

B. Kerapuhan Ideologi
Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.
Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)

C. Kerapuhan Tradisi
Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah r, para Sahabat t, ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.
Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam u, para Sahabat t, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.
Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah r) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi r dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.
Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî. [BS]

*) penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Sidogiri, tinggal di Jember
Tulisan ini dimuat di Buletin Sidogiri edisi 26

Sabtu, 08 Maret 2008

MEREKA BUTUH PENDIDIKAN


SALAH satu yang menonjol dari pesantren HUDATUL MUNA 2 adalah, bahwa kebanyakan santrinya berasal dari keluarga kurang mampu. Tetapi walau demikian, mutu pendidikan yang ada bukannya asal-asalan. Mutu dan kepuasan pelanggan (murid dan orang tua) tetap diutamakan. Oleh karenanya, pesantren mencari mitra orang-orang kaya yang mau mendermakan hartanya untuk pendidikan. Sedekah untuk pendidikan adalah INVESTASI jangka panjang yang keuntungannya akan diambil nanti kalu sudah mati. Hasil atau keuntungan (pahala) dari investasi pendidikan, baik yang ngajar maupun donaturnya akan terus mengalir selama anak didiknya dan semua anak turun anak didiknya masih mau melaksanakan perintah Allah.

Oleh karenanya, saya mengundang dermawan dan orang-orang yang peduli dengan pendidikan, salurkan sebagian harta ANDA untuk mendidik mereka (masih banyak anak-anak yang tidak punya kesempatan belajar gara-gara tidak mampu membayar). Silahkan kirimkan uang ANDA melalui rekening BCA 289 003 006 1 (atas nama M.Muslih Albaroni) dan jangan lupa setelah transfer kirim berita lewat SMS ke 081 656 9926.

Bila anda mendapati ada anak usia sekolah tidak bersekolah lantaran tidak punya uang, silahkan diantar ke Pondok Pesantren HUDATUL MUNA 2.

Jenjang Pendidikan yang ada, MTS (Madrasah Tsanawiyah) setingkat SMP, MA (Madrasah Aliyah (setingkat SMA) dan SMK Jurusan TI program keahlian TKJ (Teknik Komputer Jaringan).

Minggu, 02 Maret 2008

PONPES JENES KEBANJIRAN

Pada tanggal 26 Desember 2007 lalu banjir melanda kota reog Ponorogo tak luput pondok pesantren Hudatul Muna 2 yang terletak di Jl. Yos Sudarso juga terkena luapan air tersebut. Pesantren yang berjarak 500 meter arah selatan aloon-aloon kota Ponorogo itu terendam air sampai setinggi dada orang dewasa.
Selama dua malam seluruh santri yang berjumlah 250 mengungsi dirumah H. Author di jalan Soekarno Hatta, seorang pengusaha losmen dan catering dan juga merupakan donatur tetap pesantren tersebut.

Kerugian ditaksir puluhan juta, diantaranya adalah pakaian dan buku-buku serta kitab para santri hanyut terbawa arus.

Sayang sekali pesantren yang dihuni para santri dari keluarga kurang mampu ini tidak mendapat publikasi dari koran, sehingga tidak banyak bantuan yang diterima. Sedangkan Pondok Gontor yang hanya kemasukan airtidak ada setengah meter mendapat porsi berita di koran dan TV. BIASA. orang kecil mana yang peduli. ibaratnya... Presiden terpeleset menjadi berita utama, sedangkan rakyat miskin mati kelaparan, tidak menjadi berita... he... he..

Bagi yang ingin membantu membelikan kitab dan buku para santri bisa mengirimkan uang ke rekening BCA 2890030061 atas nama M.Muslih Albaroni (Pengasuh). Setelah transfer bantuan jangan lupa kirim SMS ke 0816569926, biar tidak campur dengan uang pribadi.